Sabtu, 20 Oktober 2012

Ditinggal Dokter Makan Siang, Pasien Meninggal di Meja Operasi


Seorang pria Swedia harus meregang nyawa di meja operasi setelah dokter anestesi dan perawat meninggalkannya untuk istirahat makan siang saat prosedur masih berlangsung.

Nahas benar nasib pria 72 tahun asal Swedia ini. Pria yang tidak sebutkan namanya tersebut berniat melakukan operasi untuk mengangkat tumor dari tubuhnya di sebuah rumah sakit di Lidkoping, Swedia.

Ia mendapatkan anestesi (pembiusan) pada pukul 10.45 pagi waktu setempat. Namun, menurut media The Local, seperti dilansirFoxnews, Senin (17/9/2012), dokter kepala anestesi kemudian meninggalkan ruang operasi untuk istirahat makan siang yang juga diikuti oleh kepala perawat anestesi 15 menit kemudian.

Selama dokter dan perawat keluar makan, tidak ada pergantian dokter lain. Perawat anestesi lain sudah dipanggil, namun ia tidak familiar dengan peralatan respirator (alat bantu napas) yang menempel di tubuh pria tersebut.

Tak lama kemudian, pria itu mengalami perdarahan, sementara tekanan darahnya mulai drop. Perawat pengganti yang sudah putus asa mencoba mencari dokter anestesi pada pukul 1 siang, ketika kondisi pasien sudah kritis.

Dokter dan perawat akhirnya kembali dari makan siang dan menemukan bahwa respirator pasien telah mati, sehingga merampas asupan oksigennya selama 8 menit.

Mereka mencoba melakukan resusitasi tetapi akhirnya usaha tersebut gagal. Karena kekurangan oksigen, pria tersebut mengalami kerusakan otak parah dan meninggal dunia.

Kasus yang terjadi pada Januari 2011 lalu baru-baru ini dilaporkan ke Sweden’s National Board of Health and Welfare oleh putrinya. Dewan mengeluarkan 'kritik tajam' dari kebijakan rumah sakit tersebut.

"Perencaan operasional yang mengizinkan dokter dan perawat yang bertanggungjawab untuk istirahat makan siang di waktu yang sama tanpa ada dokter lain yang mengambil alih tanggung jawab pada pasien, bisa menyebabkan risiko yang tidak bisa diterima," tulis Sweden’s National Board of Health and Welfare dalam temuannya.

Dewan juga menemukan kesalahan dengan fakta bahwa dokter yang bertanggungjawab tidak bisa dihubungi melalui telepon, serta dengan keputusan menyerahkan tanggung jawab untuk pasien berisiko tinggi pada perawat tunggal yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup terhadao peralatan yang digunakan selama operasi. 



0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah mengisi Buku Tamu :)